Minggu, 22 Maret 2015

KERAJAAN DOMPO



Ekspedisi Majapahit

situs Warukali keadaannya sangat memprihatinkan karena sejumlah bata yang terdapat di situs ini juga banyak yang dimanfaatkan masyarakat untuk pembangunan rumah-rumah penduduk. Bahkan pernah terjadi penggalian liar di lokasi ini, karena menurut masyarakat setempat kawasan tersebut dicurigai menyimpan harta karun. Akibat penggalian liar ini adalah rusaknya sejumlah bata material bangunan kuno tersebut. Temuan bata berukuran besar ini tersebar dalam radius lebih luas di wilayah ini di antaranya di Doro Empana, Doro Ngao dan bahkan di wilayah Sambitangga, temuan bata ini digali habis untuk material pembangunan rumah.

Di lokasi ini juga ditemukan sejumlah keramik yang masih utuh semacam piring dan mangkok Cina yang diperkirakan berasal dari Dinasti Yuan (abad 14 - 15 M). Sehingga secara makro, hubungan antara kawasan sekitarnya ini merupakan kesatuan wilayah dan budaya pada masa lalu, dilihat dari penemuan sejumlah benda arkeologi seperti keramik. Temuan data ini juga didapat di areal kuburan bersebelahan situs Warukali. Menurut informasi masyarakat setempat, bata kuno tersebut ditemukan cukup banyak di areal kuburan, sehingga pada waktu penggalian liang kubur, bata-bata ini diangkat dari dalam galian sedalam 1 m dari permukaan tanah. Nama Warukali yang dikenal sekarang pada mulanya merupakan gelar penobatan seorang tokoh agama Islam -- gelar tersebut mengandung simbol delapan sifat kepemimpinan yang harus ditaati seorang tokoh atau pemimpin.

Adanya dugaan penobatan tokoh di wilayah ini kemungkinan karena secara historis wilayah tersebut dipandang penting sejak zaman Hindu, sehingga dalam perkembangan belakangan pada masa masuknya pengaruh Islam kawasan ini juga diberikan kehormatan sebagai tempat penobatan tokoh penyebar agama Islam.
Nama Warukali secara monumental tetap dikenal sampai sekarang. Berdasarkan bukti-bukti sejarah Walwaktikta, kebesaran Majapahit memang sampai menguasai wilayah ini. Seperti disebutkan dalam kitab Negara Kertagama, bahwa dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 - 1389), seluruh negeri di Pulau Sumbawa yaitu pulau Taliwang, Dompu, Sapi, Sanghiang Api, Bima, Seran, dan Utan Kadali menjadi daerah Kerajaan Majapahit.
Dalam cerita mengenai kerajaan Dompu pada zaman pemerintahan Mawaa Taho, yaitu tahun 1357, ekspedisi Majapahit yang dipimpin oleh Laksamana Nala dan dibantu oleh laskar dari Bali yang dipimpin oleh Pasung Gerigis berhasil menaklukan Dompu dan daerah sekitarnya. Sejak saat itulah Dompu bernaung di bawah kekuasaan Majapahit. Tercatatnya Kerajaan Dompu sebagai salah satu target penguasaan Majapahit karena dipandang Kerajaan Dompu strategis pada saat itu. Kerajaan Dompu sudah dikenal petinggi Majapahit sejak pemerintahan Tribuwana (1328 - 1350).

Dalam sejarah Dompu disebutkan, kelahiran Dompu sebagai cikal bakal kerajaan telah dimulai sejak abad ke-7 yaitu pada zaman Sriwijaya. Sebab, dalam cerita rakyat yang berkembang di Dompu disebut-sebut bahwa Sang Kula (cikal bakal Raja Dompu) yang juga dikenal dengan sebutan Ncuhi Patikula mempunyai seorang putri yang ia kawinkan dengan putra Raja dari Tulang Bawang dan atas kesepakatan para Ncuhi ia dinobatkan sebagai raja Dompu yang berkedudukan di Negeri Tonda -- sekitar 10 km arah selatan Dompu. Sampai kini, jejak budaya Majapahit masih tersebar di kawasan ini.

Bentuk Bangunan
Di situs Warukali dekat Doro Bata ditemukan sejumlah rerutuhan dan susunan struktur yang tidak beraturan. Secara morfologi, bentuk bangunan diperkirakan berteras dengan konstruksi kayu pada bangunan atas. Pertimbangan ini didasari adanya perbedaan ketinggian temuan struktur atas dan bawah dengan selisih ketinggian 160 cm. Bangunan berteras semacam ini masih mentradisi di Bali yang lebih dikenal dengan bangunan gunung rata.
Memperhatikan material yang dipergunakan yaitu bata pecah dan batu kali, sepertinya merupakan material sisa dari pembuatan bangunan suci. Ini merupakan indikasi, kemungkinan bangunan tersebut merupakan bangunan profan, yang menurut kepercayaan bahwa material bangunan profan tidak boleh sama atau lebih baik dari bangunan suci. Memperhatikan lokasinya yang memilih tempat yang tinggi terkait dengan fungsi bangunan itu, secara hirarki merupakan permukaan tokoh keagamaan atau bangsawan (Ncuhi) pada masa itu. Indikasi ini diperkuat pula dengan temuan aktivitas keseharian yang terbuat dari keramik yang mempunyai nilai tinggi pada masa itu.
Sedangkan bangunan suci keagamaannya berada di Doro Bata yang letaknya di pusat kawasan dari keempat wilayah Doro Empana, Doro Ngao, Sambitangga, dan Doro Swete. Keberadaan keempat wilayah tersebut mengitari Doro Bata, dari empat arah penjuru mata angin yang terminologinya di Bali dikenal dengan konsep "nyatur desa". Dugaan ini diperkuat oleh pendapat yang menyebutkan situs hunian pada umumnya berada tidak jauh dari kawasan bangunan suci.

2. Kerajaan Tanjungpura (Kalimantan)
Tanjungpura pernah menjadi bawahan Majapahit pada masa Raja Hayam Wuruk, seperti tertulis dalam naskah Negarakertagama dan prasasti di Waringin Pitu berangka tahun 1447.
“Politik ekspansi Majapahit dilakukan tidak hanya dengan kekuatan senjata tapi juga melalui perkawinan dengan anak raja setempat. Untuk Kerajaan Tanjungpura, Putri Junjung Buih (Dayang Potong) kawin dengan anak Raja Majapahit, Prabu Jaya. Melalui cara ini, Tanjungpra dapat ditaklukkan dan dijadikan ibukota negara bagian wilayah Tanjung Negara (sebutan Majapahit untuk Pulau Kalimantan waktu itu) pada tahun 1447 M..
Perkawinan anak Raja Majapahit dengan Putri Junjung Buih, Putri Yaparong memperoleh tiga anak,
1. Pangeran Prabu bergelar Raja Baparung mendirikan kerajaan Tanjungpura
2. Gusti Likar mendirikan Kerajaan Meliau
3. Pangeran Mancar mendirikan Kerajaan Tayan.
Setelah Raja Baparung wafat tahun 1481, anaknya Karang Tunjung naik takhta bergelar Panembahan Pudong Berasap. Pada tahun 1500, pemerintahan digantikan anaknya Panembahan Kalahirang. “Kemudian sekitar tahun 1501 kota Kerajaan Tanjungpura dipindahkan dari Benoa Lama (Desa Negeri Baru, Kelurahan Mulia Kerta) ke Kota Sukadana sebagai akibat perubahan sistem pemerintahan dan politik ekspansi kerajaan yang dipimpin Panembahan Kalahirang. Pada masa pemerintahannya hubungan perdagangan dengan kerajaan luar seperti Melaka, Majapahit, dan Tiongkok terjalin erat,” tulis Kamboja. Kemudian kesaksian kunjungan Laksamana Hang Tuah dari Kesultanan Melaka (Malaysia) sekitar tahun 1478 ke ibukota Majapahit, sudah tidak menemukan kemasyhuran bahkan memberikan kritik. Hang Tuah sendiri diminta Majapahit melawan Kesultanan Demak dan disanggupinya. Pertumpahan darah dengan salah seorang kerabat Kesultanan Demak memperoleh azimat pusaka keris Tameng Sari (Perisai Jiwa ).

SEJARAH ORANG BIMA ( DOU DONGGO ELE DAN DOU DONGGO IPA



Posted on July 22, 2010 by by admin
Description: lengge
Secara historis orang Bima atau Dou Mbojo dibagi dalam 2 (dua) kelompok masyarakat, yaitu masyarakat suku asli Bima yaitu suku Mbojo dan Masyarakat Pendatang. Masyarakat Donggo atau dou donggo merupakan suku asli Bima yang telah lama mendiami Daerah Bima dibanding suku lain yang saat ini bermukim di sekitar wilayah pesisir. Masyarakat Donggo memiliki bahasa dan adat istiadat yang berbeda dengan orang Bima atau Dou Mbojo kebanyakan. Menurut penelitian para ahli Dou Donggo memiliki kesamaan dengan masyarakat Lombok Utara.
Suku asli Bima tinggal di lereng-lereng gunung di sekitar teluk Bima. Dou Donggo mendiami lereng Gunung Lambitu yang di sebut Donggo Ele sementara Dou Donggo yang mendiami lereng Gunung Soromandi disebut Donggo Ipa.
Mereka tinggal di perkampungan dengan rumah adat yang disebut Uma Lengge. Di kelilingi pegunungan dan perbukitan serta panorama alam yang indah dan menarik untuk dinikmati.
Masyarakat donggo atau Dou Donggo berwatak keras, mempunyai warna kulit hitam, wanita bila keluar rumah membawa senjata tajam untuk berjaga-jaga, misalnya pisau.
Rumah tempat tinggalnya (disebut Uma Lengge) dibangun dengan ketinggian sekitar 6 sampai 7 meter, lebar 3×4 meter, tujuannya untuk menghindari serangan binatang buas dan untuk menjaga agar suhu di dalam rumah Lengge tetap hangat di waktu malam. Mata pencaharian mereka berladang dan beburu. Dalam keseharian mereka sangat menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan sifat gotong royong, sehingga hubungan mereka tetap bersahaja ditengah kondisi alam yang tidak bersahabat.
Orang Donggo ipa mempunyai bentuk rumah yang berbeda dengan Uma Lengge. Rumah mereka atapnya lebih runcing dan tinggi atau disebut uma Leme. Uma Leme dan Uma Lengge berdindingkan atap seperti alang-alang agar rumah tetap hangat. Rumah tersebut terdiri dari empat tiang yang bersegi 8 (delapan) yang dibuta dari kayu sangga yaitu kayu yang bisa menolak bala dan bencana.
8 tiang tersebut menujukan bahwa pemimpin yang berhak menjadi ncuhi yaitu orang yang nggusu waru.
Pakaian :

– pakaian kebesaran masyarakat donggo : hanya dapat dipakai pada upacara-upcara adat seperti: sasangi, kabusi rasa, ampa ncuhi, dapu, mpisi, kalero dan lain-lain. Bahkan dipakai di hadapan raja.
–Laki-laki (Masyarakat Biasa): Sangat beda dengan masyarakat lain laki-laki selembar baju hitam yang bergaris tegak lurus putih dengan berbentuk kimono yang berlubang pada lehernya dan lengan yang disebut kababu compo sendangkan bagian bawah disambung dengan rumbai-rumbai (jambo), rambut panjang diikat runcing dengan ro’o laju.
– Wanita (Masyarakat Biasa) : memakai ka’ba’bu adan tembe sangga dengan rambut di gulung (di sanggil) berbentuk bonggolan dan sisir yang dipake adalah dari tangan.
Pemimpin Desa (‘Dari Ncuhi Memakai Surban Putih) :
Warna pakaian has donggo adalah hitam berbelah biru juga ada beberapa bolangan merah dengan makna: warna hitam berarti keagungan, warna biru berarti kasisayang, warna merah berarti kejantanan, warna putih pada kimono berarti kesucian. Pakaian semacam ini adalah pakaian kebesaran atau keagungan.

Kesenian :
Kesenian yang disukai masyarakat donggo adalah mpisi dan kalero.
– Mpisi adalah sentuhan kaki akibat haru dan kecewa.
– Kalero adalah dendangan lagu ratapan.
Mpisi semula berawal dari tanta mpisi disertai keyang.
Kalero yaitu kada’da da kaporo akibat dari kematian itu. Sepulang dari penguburan mayat, dirumah duka terdengar isap tangis dan tanta mpisi serta kejang.
Akhirnya kata-kata dan kalimat itu dijadikan landasan untuk mengenang arwah pada 3 hari, 7 hari, 10 hari, dan 44 hari setelah kematian. Dalam kegiatan doa mengenang arwah tersebut (doa rowa) di tampilkan mpisi dan kalero yang di selingi dengan ntu’ba ncala yaitu permainan sakral pembelaan diri yang dimiliki, tertuanglah segala perasaan haru dan kecewa yang akhirnya berubah menjadi perasaan tenang dan damai dari ahli mayat.
ditulis dan diposting oleh Admin: Khusnul Hatimah (staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bima)
Sumber Foto: Google

Kamis, 05 Maret 2015

Hiburan tak membuat saya terhibur.



Oleh : Andi Hermawan
 


Dalam dedikasi malam terakhir ini sekelompok pemuda gerakan aktif menyambut kegiatan acara penutupan penghibur diri sebelum masuk aktif melakukan kegiatan belajar-mengajar di kampus seperti sebelumnya. Kali ini tak seindah seperti banyangan imajinasi dengan kenyataan yang ada. Semangat itu tak membuat saya lemah apalagi merasa sedih sebab kebahagian hidup ada dalam kebersamaan kelompok.

Melewati cerita keanguhan, kesombongan, keringkil tak peduli hingga tak disiplin waktu pernah sama-sama kita tuangkan dalam nafsu beremosi. Kita tak pernah peduli juga tak pernah merasa bersalah karena masing-masing sudah mendahului petinggi ilmu walaupun hanya sedikit membenci ilmu. Duduk bersama meraju kata dalam cerita sambil menunggu ikan bakar matang dan bisa dimakan secara sehat dan lejat, setelah berproses lama melewati kurungan waktu yang tidak sedikit ikan bakar pun telah menjadi matang juga beras putih yang di masak sudah siap untuk dimakan secara bersamaan.

Kegalauan dalam kebersamaan membuat hati dan jiwa sedikit malu diam tanpa kata, entah itu merasa dikecilkan, ataukah karna actor dalam ladang perempuan ?? entahlah yang terpenting yang saya ingat kebahagiaan kebersamaan ada dalam kelompok, yang kini telah hilang dan lenyap tanpa kesan di awal bulan. 

Ini bukan ungkapan sedih juga bukan karna marah, tetapi saya mengevaluasi kinerja diri dalam melewati hari demi hari dengan sisah waktu yang cukup panjang. Keindahan kebersama tanpa memberi kesan untuk di kenang tak pernah kunjung ada, sebab KITA semua masih mencari jati diri untuk di hargai. Tindakan adalah menivestasi dari pikiran, semua yang dilakukan tentunya harus berpikir untuk hari ini dan jangka panjang kedepan. 

Kerisauhan hati dalam kegelisahan malam, saya hanya dapat menulis indah tanpa emosi. 
Keindahan malam itu, banyak bintang di awan langit yang menemani bulan di sekelilingnya sehingga tidak ada merasa sunyi dan gelisa apalagi merasa merasa untung dan rugi.

SAYA TETAP BAHAGIA WALAPUN TAK SEDIKIT K(E)cewak

Minggu, 01 Maret 2015

Antara Moderlisasi dan Tradisional

Mengingati cerita panjang itu lagi-lagi saya harus memaksa bercerita dengan pena untuk menuliskan kata. Apapun itu, antara kekecewaan dan kekaguman. tapi kali ini dengan kondisi dan keadaan yang memaksa jiwa untuk merangkul kata dalam menulis. tiba-tiba pikiran ini tersendak tanpa terkonsep, ini bukan nyihir juga bukan humoris tapi ini adalah cerita evaluasi diri dalam budaya ketimuran.

Lahir dari kota yang sama, tumbuh besar juga di kota yang sama. Hampir mencapai usia dewasa tak sedikitpun keindahan kota yang berubah, Masih seperti di awal kelahiran, menepatkan diri di tempat Bumi seribu kata. Yach.. Kota Dompu Bumi slogam Ngahi rawi ini berada di bagian tengah Pulau Sumbawa Wilayahnya seluas 2.321,55 km² dan jumlah penduduknya sekitar 218.000 jiwa. Kabupaten Dompu perbatasan dengan Kabupaten Sumbawa dan Teluk Saleh di barat, Kabupaten Bima di utara dan timur serta Samudera Hindia di selatan.  

Mencapai umur tua di anggka tinggi, kini Hampir tak semua orang mengenal Identitas ketimuran. Khusunya untuk pemuda generasi perubahan perkembangan kemajuan daerah, Lahir di bumi Ngahi rawi pahu tentunya juga tau beberapa karakteristik orang timur. Kebudayaan ketimuran yang kerap di puji dengan berbagai motiv pakaian yang Indah, beberapa gerakan tubuh yang lincah dan teratur, gendangan musik tradisional, kini telah menjadi cerita dulu yang tak pernah di tayang kembali setelah berperan aktif mengenal moderlisasi dunia dan melupakan nilai-nilai luhur kebudayaan.
Dewasa ini, Tidak jarang hampir semua orang mengakui dengan perkembangan teknologi terkini yang membawa pengaruh besar kepada tiap insan berbudi dan berakal dapat cepat terkontakminasi. Masuknya berbagai macam trendingTopic moderlisasi mulai dari berpakaian (Style), Berbahasa (Speaking), hingga makanan telah menjadi idolah banyak orang.

Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini.
Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, Kehilangan jati diri ketimuran mulai Nampak jelas di Bumi Ngahi rawi pahu. Beberapa budaya ciri khas Dou dompu dulu menjadi nontonan kegembiraan kini telah perpaling sedih dan kegalauan.


kebudayaan Dou-Dompu yang kerap kali di banggakan adalah antara biolah katipu juga mpa’a gantao yang pernah penulis nonton di beberapa titik arus jalan, itu telah menjadi idolah banyak orang yang menunggu untuk menonton. kegigihan sekaligus penghibur dalam menampilkan aksalarasi atraksi itu telah menjadi idaman bagi banyak orang. Biolah katipu adalah alat kearifan lokal budaya dou Dompu-Bima yang masih bertahan hingga hari ini walaupun penganti (substitute) oleh Orgam malam. Orgam malam sendiri juga sering di lakukan hingga pagi hari di saat ada acara-acara hajatan seperti Acara Ulang tahun, Pernikahan, perpisahan, penyambutan tahun baru, Hingga sampai ke pengujung jalan yaitu Liburan Lebaran. 
Cara membunyikan biola sendiri dapat dengan digesek dengan busur maupun dipetik dengan jari tangan kanan (teknik ini disebut dengan pizzicato). Walaupun untuk pemain biasa memetik senar biola dengan teknik pizzicato selalu dilakukan dengan jari tangan kanan, namun ada pula pemain yang memetik dengan tangan kiri dan lagu-lagu khusus yang memerlukan kecepatan tinggi antara menggesek dengan busur dan memetik dengan jari sehingga jari tangan kiri yang digunakan.biasanya biolah katipu sendiri di mainkan oleh dua orang, yang satu menjadi vokal dan satu menjadi aktor seni.


Tidak hanya biola katipu alat tradisional bernada musik, salah satunya juga yang menjadi penghibur di masa kecil adalah Mpa’a Gantao. Mpa’a gantao sendiri dimainkan oleh dua orang penari, ragam geraknya sama dengan ragam gerak silat, tetapi dimainkan dalam irama gerak yang cepat, begitu pula musik pengiringnya tidak jauh berbeda dengan irama musik Mpa’a sila(Silat), hanya iramanya lebih cepat. Alat music pengiringnya adalah dua buah gendang, Tawa-Tawa, Gong serta alunan Serunai Khas Mbojo yang disebut “ Sarone”. Dalam satu group Gantao terdiri dari lima orang pemain music dan 2 orang pemain Gantao.
Moderlisasi perkembangan teknologi, beberapa kearifan lokal budaya mulai disembunyihi oleh alat-alat musik moderen terkini. Seharusnya pemudah yang menjadi ladang pejuang mempertahankan erat kebudayaan Dou timur (Orang timur), kini seakan buta dan tuli melihat realita kekinian yang terjadi. kejadian ini tergolong masih tetap eksis keberadaannya hingga saat ini. Meskipun hanya seberapa kecil saja pemuda kreatif aktif masih bersemangat mempertahankannya. Persoalan mendasar yang dihadapi para seniman adalah minimnya pembinaan dan bantuan peralatan serta kostum. Disamping itu, proses regenerasinya sangat lamban. Peniup Sarone saja semakin langka, apalagi penabuh gendang. Diperlukan pembinaan dan proses regenerasi untuk mengajak para pemuda bergelut di seni budaya tradisional Mbojo dalam rangka upaya pelestariannya.
Di tengah suasana penghibur diri, manghabiskan lelah dalam berirama. Tiba-tiba malam ini teringat di waktu kala ketika saya mendengarkan alunan musik tradisional Dou Dompu yang indah dan terhibur itu.


Selasa, 13 Januari 2015

Makan Sealah Kadarnya [GKMD]



Setelah menghabiskan waktu cukup lama mengejarkan beberapa tugas kampus, kini kamipun tidak lupa untuk mengisi nutrisi tubuh walaupun setengah apa adanya. Dengan beberapa menu yang mungkin sering di lakukan khususnya mahasiswa merantau, jauh dari pembuatan orang tua yang biasanya setiap bangun pagi ada makanan di siapin dan bisa langsung untuk di makan. Tetapi kali ini bedah dengan cerita itu, mahasiswa dengan angka Indeks pendapatan manusia [IMP] di angka rata-rata rendah, mereka hanya bisa menyiapkan makan sealah kadanya termaksut  yang sering di konsumsi yaitu “Mie instan, Ikan teri, serta tahu & tempe”.

Berbagi cerita di tengah malam, Creative serta kekompakan melewati malam dengan menyiapkan makan bersama di tempat kos sederahana ini Jln Kekalek Swasbadan. Harapan besar orang tua seiring dengan do’a ingin melihat anaknya SUKSES, tentunya bisa membahagiaka keadaanya sendiri di tengah perkembangan jaman dan persaingan yang semakin tajam. Di lihat dari kepadatan penduduk di wilayah kota mataram Kebanyakan yang hadir mengiasi pendidikan di mataram mayoritasi oleh anak-anak dari pulau Sumbawa termaksut Dompu & Bima.

Beberapa teman kampus hanya mengenal kabupaten-kota BIMA belum terlalu mengenal Dompu bahkan baru-baru ini ia mengenal kabupaten dompu tersebut, padahal di timur pulau Sumbawa sebelum masuk di kabupaten BIMA titik tengah itu ada kabupaten DOMPU, BIMA ya BIMA dengan Pemerintahnya sendiri begitu sebaliknya. Memang  ada persamaan di antara Dompu dan BIMA, persamaan itu adalah SUKU bahasa MBOJO. Bahasa yang sama dan sejarahnya yang berbeda, Dengan persamaan bahasa MBOJO ini yang memudahkan serta pendekatan secara emosional antara ke dua kabupaten cepat terakur di wilayah meratau ini.

Beberapa menu di atas sebenarnya masih ada yang kurang  yaitu “AIR ASAM”, sebelumnya ini sudah di ajarkan oleh ibu dan bapak untuk mengenal makanan tradisional Dou MBOJO. Konsumsi makanan ini, tidak di lakukan setiap saat, tetapi di lakukan jika berkeinginan dan biasanya untuk Obat pengilang Stress dan beberapa kandungan lain.
Dr. dr. Flastuti Witjaksono, MSc. MS. Sp.GK, dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) mengatakan, ada baik bagi wanita mulai memenuhi kebutuhan kalsiumnya sedari remaja. Setidaknya, kebutuhan kalsium yang patut Anda penuhi ketika usia remaja sebesar 1.300 mg. Salah satu caranya untuk memenuhi kebetuhan kalsium itu, Anda bisa dapati dengan rutin mengonsumsi ikan teri.
"Kebutuhan kalsium bisa didapat dari susu. Kalau Anda memilih susu biasa, kalsium yang tersedia hanya 200 sampai 250 mg. Sedangkan susu yang diperkaya dengan kalsium lebih, terkandung sekitar 500 mg. Agar terpenuhi yang 1.300 mg, bisa didapat dari makanan lain, termasuk teri," kata Flastuti Witjaksono.

Kebersamaan akan terjalin dengan harmonis jika satu sama lain salin mengerti keadaannya,  menyimpan kenangan kebersamaan ini dalam susah maupun senang.