Posted on July 22, 2010 by by admin
Secara historis orang Bima atau Dou Mbojo dibagi dalam 2
(dua) kelompok masyarakat, yaitu masyarakat suku asli Bima yaitu suku Mbojo dan
Masyarakat Pendatang. Masyarakat Donggo atau dou donggo merupakan suku asli
Bima yang telah lama mendiami Daerah Bima dibanding suku lain yang saat ini
bermukim di sekitar wilayah pesisir. Masyarakat Donggo memiliki bahasa dan adat
istiadat yang berbeda dengan orang Bima atau Dou Mbojo kebanyakan. Menurut
penelitian para ahli Dou Donggo memiliki kesamaan dengan masyarakat Lombok
Utara.
Suku asli Bima tinggal di lereng-lereng gunung di sekitar teluk Bima. Dou Donggo mendiami lereng Gunung Lambitu yang di sebut Donggo Ele sementara Dou Donggo yang mendiami lereng Gunung Soromandi disebut Donggo Ipa.
Mereka tinggal di perkampungan dengan rumah adat yang disebut Uma Lengge. Di kelilingi pegunungan dan perbukitan serta panorama alam yang indah dan menarik untuk dinikmati.
Masyarakat donggo atau Dou Donggo berwatak keras, mempunyai warna kulit hitam, wanita bila keluar rumah membawa senjata tajam untuk berjaga-jaga, misalnya pisau.
Rumah tempat tinggalnya (disebut Uma Lengge) dibangun dengan ketinggian sekitar 6 sampai 7 meter, lebar 3×4 meter, tujuannya untuk menghindari serangan binatang buas dan untuk menjaga agar suhu di dalam rumah Lengge tetap hangat di waktu malam. Mata pencaharian mereka berladang dan beburu. Dalam keseharian mereka sangat menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan sifat gotong royong, sehingga hubungan mereka tetap bersahaja ditengah kondisi alam yang tidak bersahabat.
Suku asli Bima tinggal di lereng-lereng gunung di sekitar teluk Bima. Dou Donggo mendiami lereng Gunung Lambitu yang di sebut Donggo Ele sementara Dou Donggo yang mendiami lereng Gunung Soromandi disebut Donggo Ipa.
Mereka tinggal di perkampungan dengan rumah adat yang disebut Uma Lengge. Di kelilingi pegunungan dan perbukitan serta panorama alam yang indah dan menarik untuk dinikmati.
Masyarakat donggo atau Dou Donggo berwatak keras, mempunyai warna kulit hitam, wanita bila keluar rumah membawa senjata tajam untuk berjaga-jaga, misalnya pisau.
Rumah tempat tinggalnya (disebut Uma Lengge) dibangun dengan ketinggian sekitar 6 sampai 7 meter, lebar 3×4 meter, tujuannya untuk menghindari serangan binatang buas dan untuk menjaga agar suhu di dalam rumah Lengge tetap hangat di waktu malam. Mata pencaharian mereka berladang dan beburu. Dalam keseharian mereka sangat menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan sifat gotong royong, sehingga hubungan mereka tetap bersahaja ditengah kondisi alam yang tidak bersahabat.
Orang Donggo ipa mempunyai bentuk
rumah yang berbeda dengan Uma Lengge. Rumah mereka atapnya lebih runcing dan
tinggi atau disebut uma Leme. Uma Leme dan Uma Lengge berdindingkan atap
seperti alang-alang agar rumah tetap hangat. Rumah tersebut terdiri dari empat
tiang yang bersegi 8 (delapan) yang dibuta dari kayu sangga yaitu kayu yang
bisa menolak bala dan bencana.
8 tiang tersebut menujukan bahwa pemimpin yang berhak menjadi ncuhi yaitu orang yang nggusu waru.
8 tiang tersebut menujukan bahwa pemimpin yang berhak menjadi ncuhi yaitu orang yang nggusu waru.
Pakaian :
– pakaian kebesaran masyarakat donggo : hanya dapat dipakai pada upacara-upcara adat seperti: sasangi, kabusi rasa, ampa ncuhi, dapu, mpisi, kalero dan lain-lain. Bahkan dipakai di hadapan raja.
–Laki-laki (Masyarakat Biasa): Sangat beda dengan masyarakat lain laki-laki selembar baju hitam yang bergaris tegak lurus putih dengan berbentuk kimono yang berlubang pada lehernya dan lengan yang disebut kababu compo sendangkan bagian bawah disambung dengan rumbai-rumbai (jambo), rambut panjang diikat runcing dengan ro’o laju.
– Wanita (Masyarakat Biasa) : memakai ka’ba’bu adan tembe sangga dengan rambut di gulung (di sanggil) berbentuk bonggolan dan sisir yang dipake adalah dari tangan.
– pakaian kebesaran masyarakat donggo : hanya dapat dipakai pada upacara-upcara adat seperti: sasangi, kabusi rasa, ampa ncuhi, dapu, mpisi, kalero dan lain-lain. Bahkan dipakai di hadapan raja.
–Laki-laki (Masyarakat Biasa): Sangat beda dengan masyarakat lain laki-laki selembar baju hitam yang bergaris tegak lurus putih dengan berbentuk kimono yang berlubang pada lehernya dan lengan yang disebut kababu compo sendangkan bagian bawah disambung dengan rumbai-rumbai (jambo), rambut panjang diikat runcing dengan ro’o laju.
– Wanita (Masyarakat Biasa) : memakai ka’ba’bu adan tembe sangga dengan rambut di gulung (di sanggil) berbentuk bonggolan dan sisir yang dipake adalah dari tangan.
Pemimpin Desa (‘Dari Ncuhi Memakai
Surban Putih) :
Warna pakaian has donggo adalah hitam berbelah biru juga ada beberapa bolangan merah dengan makna: warna hitam berarti keagungan, warna biru berarti kasisayang, warna merah berarti kejantanan, warna putih pada kimono berarti kesucian. Pakaian semacam ini adalah pakaian kebesaran atau keagungan.
Warna pakaian has donggo adalah hitam berbelah biru juga ada beberapa bolangan merah dengan makna: warna hitam berarti keagungan, warna biru berarti kasisayang, warna merah berarti kejantanan, warna putih pada kimono berarti kesucian. Pakaian semacam ini adalah pakaian kebesaran atau keagungan.
Kesenian :
Kesenian yang disukai masyarakat
donggo adalah mpisi dan kalero.
– Mpisi adalah sentuhan kaki akibat haru dan kecewa.
– Kalero adalah dendangan lagu ratapan.
Mpisi semula berawal dari tanta mpisi disertai keyang.
Kalero yaitu kada’da da kaporo akibat dari kematian itu. Sepulang dari penguburan mayat, dirumah duka terdengar isap tangis dan tanta mpisi serta kejang.
Akhirnya kata-kata dan kalimat itu dijadikan landasan untuk mengenang arwah pada 3 hari, 7 hari, 10 hari, dan 44 hari setelah kematian. Dalam kegiatan doa mengenang arwah tersebut (doa rowa) di tampilkan mpisi dan kalero yang di selingi dengan ntu’ba ncala yaitu permainan sakral pembelaan diri yang dimiliki, tertuanglah segala perasaan haru dan kecewa yang akhirnya berubah menjadi perasaan tenang dan damai dari ahli mayat.
– Mpisi adalah sentuhan kaki akibat haru dan kecewa.
– Kalero adalah dendangan lagu ratapan.
Mpisi semula berawal dari tanta mpisi disertai keyang.
Kalero yaitu kada’da da kaporo akibat dari kematian itu. Sepulang dari penguburan mayat, dirumah duka terdengar isap tangis dan tanta mpisi serta kejang.
Akhirnya kata-kata dan kalimat itu dijadikan landasan untuk mengenang arwah pada 3 hari, 7 hari, 10 hari, dan 44 hari setelah kematian. Dalam kegiatan doa mengenang arwah tersebut (doa rowa) di tampilkan mpisi dan kalero yang di selingi dengan ntu’ba ncala yaitu permainan sakral pembelaan diri yang dimiliki, tertuanglah segala perasaan haru dan kecewa yang akhirnya berubah menjadi perasaan tenang dan damai dari ahli mayat.
ditulis dan diposting oleh
Admin: Khusnul
Hatimah (staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bima)
Sumber Foto: Google
Sumber Foto: Google

Tidak ada komentar:
Posting Komentar