Minggu, 01 Maret 2015

Antara Moderlisasi dan Tradisional

Mengingati cerita panjang itu lagi-lagi saya harus memaksa bercerita dengan pena untuk menuliskan kata. Apapun itu, antara kekecewaan dan kekaguman. tapi kali ini dengan kondisi dan keadaan yang memaksa jiwa untuk merangkul kata dalam menulis. tiba-tiba pikiran ini tersendak tanpa terkonsep, ini bukan nyihir juga bukan humoris tapi ini adalah cerita evaluasi diri dalam budaya ketimuran.

Lahir dari kota yang sama, tumbuh besar juga di kota yang sama. Hampir mencapai usia dewasa tak sedikitpun keindahan kota yang berubah, Masih seperti di awal kelahiran, menepatkan diri di tempat Bumi seribu kata. Yach.. Kota Dompu Bumi slogam Ngahi rawi ini berada di bagian tengah Pulau Sumbawa Wilayahnya seluas 2.321,55 km² dan jumlah penduduknya sekitar 218.000 jiwa. Kabupaten Dompu perbatasan dengan Kabupaten Sumbawa dan Teluk Saleh di barat, Kabupaten Bima di utara dan timur serta Samudera Hindia di selatan.  

Mencapai umur tua di anggka tinggi, kini Hampir tak semua orang mengenal Identitas ketimuran. Khusunya untuk pemuda generasi perubahan perkembangan kemajuan daerah, Lahir di bumi Ngahi rawi pahu tentunya juga tau beberapa karakteristik orang timur. Kebudayaan ketimuran yang kerap di puji dengan berbagai motiv pakaian yang Indah, beberapa gerakan tubuh yang lincah dan teratur, gendangan musik tradisional, kini telah menjadi cerita dulu yang tak pernah di tayang kembali setelah berperan aktif mengenal moderlisasi dunia dan melupakan nilai-nilai luhur kebudayaan.
Dewasa ini, Tidak jarang hampir semua orang mengakui dengan perkembangan teknologi terkini yang membawa pengaruh besar kepada tiap insan berbudi dan berakal dapat cepat terkontakminasi. Masuknya berbagai macam trendingTopic moderlisasi mulai dari berpakaian (Style), Berbahasa (Speaking), hingga makanan telah menjadi idolah banyak orang.

Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini.
Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, Kehilangan jati diri ketimuran mulai Nampak jelas di Bumi Ngahi rawi pahu. Beberapa budaya ciri khas Dou dompu dulu menjadi nontonan kegembiraan kini telah perpaling sedih dan kegalauan.


kebudayaan Dou-Dompu yang kerap kali di banggakan adalah antara biolah katipu juga mpa’a gantao yang pernah penulis nonton di beberapa titik arus jalan, itu telah menjadi idolah banyak orang yang menunggu untuk menonton. kegigihan sekaligus penghibur dalam menampilkan aksalarasi atraksi itu telah menjadi idaman bagi banyak orang. Biolah katipu adalah alat kearifan lokal budaya dou Dompu-Bima yang masih bertahan hingga hari ini walaupun penganti (substitute) oleh Orgam malam. Orgam malam sendiri juga sering di lakukan hingga pagi hari di saat ada acara-acara hajatan seperti Acara Ulang tahun, Pernikahan, perpisahan, penyambutan tahun baru, Hingga sampai ke pengujung jalan yaitu Liburan Lebaran. 
Cara membunyikan biola sendiri dapat dengan digesek dengan busur maupun dipetik dengan jari tangan kanan (teknik ini disebut dengan pizzicato). Walaupun untuk pemain biasa memetik senar biola dengan teknik pizzicato selalu dilakukan dengan jari tangan kanan, namun ada pula pemain yang memetik dengan tangan kiri dan lagu-lagu khusus yang memerlukan kecepatan tinggi antara menggesek dengan busur dan memetik dengan jari sehingga jari tangan kiri yang digunakan.biasanya biolah katipu sendiri di mainkan oleh dua orang, yang satu menjadi vokal dan satu menjadi aktor seni.


Tidak hanya biola katipu alat tradisional bernada musik, salah satunya juga yang menjadi penghibur di masa kecil adalah Mpa’a Gantao. Mpa’a gantao sendiri dimainkan oleh dua orang penari, ragam geraknya sama dengan ragam gerak silat, tetapi dimainkan dalam irama gerak yang cepat, begitu pula musik pengiringnya tidak jauh berbeda dengan irama musik Mpa’a sila(Silat), hanya iramanya lebih cepat. Alat music pengiringnya adalah dua buah gendang, Tawa-Tawa, Gong serta alunan Serunai Khas Mbojo yang disebut “ Sarone”. Dalam satu group Gantao terdiri dari lima orang pemain music dan 2 orang pemain Gantao.
Moderlisasi perkembangan teknologi, beberapa kearifan lokal budaya mulai disembunyihi oleh alat-alat musik moderen terkini. Seharusnya pemudah yang menjadi ladang pejuang mempertahankan erat kebudayaan Dou timur (Orang timur), kini seakan buta dan tuli melihat realita kekinian yang terjadi. kejadian ini tergolong masih tetap eksis keberadaannya hingga saat ini. Meskipun hanya seberapa kecil saja pemuda kreatif aktif masih bersemangat mempertahankannya. Persoalan mendasar yang dihadapi para seniman adalah minimnya pembinaan dan bantuan peralatan serta kostum. Disamping itu, proses regenerasinya sangat lamban. Peniup Sarone saja semakin langka, apalagi penabuh gendang. Diperlukan pembinaan dan proses regenerasi untuk mengajak para pemuda bergelut di seni budaya tradisional Mbojo dalam rangka upaya pelestariannya.
Di tengah suasana penghibur diri, manghabiskan lelah dalam berirama. Tiba-tiba malam ini teringat di waktu kala ketika saya mendengarkan alunan musik tradisional Dou Dompu yang indah dan terhibur itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar