Tidak ada seorang wanita pun didunia ini yang bercita-cita menjadi Janda. Demikian pula bahwa tidak ada seorangpun didunia ini yang berkeinginan untuk hidup sengsara. Tentu masing-masing orang memiliki cita-cita untuk hidup bahagia, senang dan sejahtera dalam artian berkecukupan. Sehingga kita semua sepakat bahwa tujuan kita Sekolah, Kuliah dan belajar adalah untuk meraih sukses (kehidupan yang Makmur dan Sejahtera).
Lelaki memiliki Tanggungjawab untuk itu, yaitu membangun pondasi
kesejahteraan saat berumah tangga. Untuk membangun pondasi tersebut, tidak
langsung demikian adanya, Menikah baru belajar dan mencari tahu cara bekerja.
Untuk bekerja butuh latihan dan butuh tempaan ‘jatuh bangun’. Seperti halnya
kita sekolah, butuh latihan-latihan serta ujian agar kita naik kelas, agar kita
bisa lulus sekolah. Untuk beri-ibadah yang khusu’, puasa yang benar dan naik
haji juga butuh latihan-latihan serta belajar tata cara, estetika maupun etika.
Bila tidak, kita tidak akan mampu mengerjakan apa yang sudah disepakati,
beribadah yang khusu’, Puasa yang terjaga maupun haji yang mambrur.
Ibarat kata, Tidak boleh terbalik antara ‘Tulang punggung’ dan
‘Tulang rusuk’. Meskipun atas nama toleransi dan solidaritas, Perempuan bisa
menjadi ‘Tulang Punggung’ dengan catatan Lelaki harus bertanggungjawab atas
segala konsekwensi rutinitas yang dijalankan. Meskipun tuntutan pada umumnya
Lelaki secara Qodrati adalah ‘Tulang Punggung’ dan Wanita adalah ‘Tulang
Rusuk’. Sehingga untuk itu, agar tidak terbalik dan memposisikan diri sebagai
Khalifah (Pemimpin) ditengah keluarga, maka, sudah selayaknya seorang lelaki
melatih diri lebih awal, lebih dini, mulai saat ini untuk menjadi ‘Tulang punggung’
tersebut seiring kompetisi yang berlangsung.
Untuk Bekerja, tentu kita harus melatih diri agar siap bekerja.
kata ‘siap’ disini, tidak saja secara fisikly, namun Kemampuan
(Intelektual/Kompetensi), mental dan jiwa pun harus disiapkan. Dunia kerja atau
Pasar kerja tidak mengenal Strata Sosial, tidak mengenal Culture Sosial dan
tidak mengenal Struktur sosial. Pasar kerja hanya tahu nya, anda BISA apa dan
dapat BERBUAT apa agar menghasilkan Apa. Dunia kerja bukan dunia gengsi, Dunia
kerja adalah dunia Kompetisi, dunia kerja adalah Dunia Selektif. Tidak memiliki
Skill, Kompetensi, Spesialisasi dan intelegensia, maka anda akan menjadi
‘Sampah sosial’.
‘Sampah Sosial’ dalam pengertian penulis adalah seseorang yang
hanya bisa menghabiskan tanpa bisa menghasilkan. Seseorang yang hanya bisa
menjadi Follower tanpa berusaha memiliki Power untuk menjadi Leader atau
seseorang yang hanya bisa latah tanpa mau berlatih. Seseorang yang hidup dari
segala hal yang Instan dengan gaya yang resisten, akibatnya hanya mampu duduk
menonton dan menunggu belas kasihan orang lain. Manusia yang seperti ini yang
sering menyalahkan Takdir (Tuhan) dan kerap ‘mengkambing hitamkan’ Pemerintah,
padahal Nasib dan Perjuangan ada pada tanganya sendiri. Rejeki tidak datang
pada manusia yang duduk berpangku tangan lalu bercerita panjang lebar tentang
Sinetron yang sama-sama ditonton.
Banyak alibi (Pembelaan Diri) yang disuguhkan, bahwa kondisi
miskin yang dihadapi adalah kenyataan karena dilahirkan dari keluarga yang
miskin. Orang lain kaya dan memiliki posisi dalam jabatan itu karena memang
dilahirkan dari keluarga yang memiliki harta serta kedudukan. Antitesanya
adalah, kenapa banyak keluarga miskin mampu menjadi orang kaya dan memiliki
pekerjaan hebat? Kenapa tidak sedikit yang dilahirkan dari keluarga kaya dan
terhormat kemudian hidup miskin dan tak memiliki tujuan hidup? Semua itu
kembali pada Kesiapan kita dalam menghadapi masa depan. “Hidupmu adalah
milikmu, dirimu lah yang menentukan baik buruknya kehidupan masa depanmu, dan
dirimu jua yang akan memimpin dirimu sendiri, bukan orang lain”
Nah, kembali kepada persoalan diri dan masa depan kita. Di Dana
Mbojo, banyak generasi hari ini yang tidak sadar atas gejolak kompetisi yang
ada. Saat ini ada Tiga kubu yang berseteru dalam memperebutkan pengaruh. Yaitu
Kubu Hedonis, Kubu Feodalist dan Kubu Kreatif. Hampir sebagian besar generasi
muda kita saat ini terseret dan terjebak dalam kubu HEDONIS. Sebab dalam kubu
ini, berkumpul para Sosialita, Penikmat Entertaint, Konsumeristik,
Pemuda-pemuda Individualistik, Oportunistik dan Pengagum Modernis Style.
Pada kubu FEODALIS cenderung menganggap tabu para kaum Hedonis,
memaknai sesuatu yang baru dalam ‘kacamatan’ Tradisi sehingga muncul istilah
Pamali dan Sugesti, cenderung tertutup, tidak inovatif dan lebih ‘mengisolasi’
diri dari tatanan luar. Sekolah dan kuliah hanya untuk memenuhi kelas Strata
sosial, dianggap kerja bila ber-keki dan karakter sosial yang cenderung
tradisional dan menolak modernisasi paradigma. Sedangkan Kubu yang kaumnya
sangat sedikit adalah kubu KREATIF. Kubu ini selalu dianggap remeh oleh kubu
Feodalist dan kerap dicemooh oleh kubu Hedonis. Menghindari terbuangnya waktu
yang sia-sia, kerap membandingkan setiap langkah antara Manfaat dan mudhorat.
Kubu ini lebih cenderung menghabiskan waktu untuk 5 hal, yaitu, Diskusi,
Improvisasi Skill, mendorong Motivasi, membangun Inspirasi, dan selalu
meningkatkan Kompetensi. Oleh karenanya, Kubu ini sering disebut sebagai
manusia-manusia Pemikir yang kurang diminati.
Tetapi, pada tataran Kesiapan Mental dan Kemampuan manajemen
Masa Depan, Kubu Kreatif jauh lebih sukses dalam membangun Interaksi,
Komunikasi dan Orientasi. Sedangkan Kubu Feodalis lebih banyak menjadi Pengikut
dan Pelatah yang serba kaku dan cenderung memposisikan diri sebagai Kuli pada
tingkatan tertentu. Sedangkan Kubu Hedonis, sebagian besar menjadi manusia yang
menghabiskan masa hidupnya sebagai Pengacau, Pembisik, Pembusuk dan Penutur
yang basi.
Pada umumnya, Kubu manusia Hedonis lebih banyak menemukan
masalah dan berkutat dengan berbagai persoalan saat mereka berumah tangga
akibat tidak siap menghadapi kenyataan persaingan hidup yang sesungguhnya.
Sedangkan Kaum Feodalis lebih banyak merendahkan diri, cenderung meng-amin-i
nasib yang diterimanya sebagai Takdir hidup. Lebih merasa cukup tanpa
memotivasi diri untuk lebih berkompetisi karena tidak terbiasa. Sedangkan Kubu
Kreatif, lebih pro aktif, meski sederhana namun nampak elegan, tidak
meng-angkuh-kan diri karena selalu merasa apa yang dilakukan belum maksimal.
Cenderung lebih agresif dalam menyiapkan masa depan anak yang dilahirkan. Dan
terampil serta lebih tenang dalam manajemen guna menghadapi kompetisi hidup
yang serba kompleks.
Prespektif tersebut yang dijelaskan diatas masih bersifat
universal dan merupakan sudut pandang saya secara subjektif dalam melihat dan
membahasakan apa yang saya perhatikan dan analisah atas kondisi saat ini
terhadap (Kemungkinan) kecederungan kelompok kehidupan masyarakat Dana Mbojo
masa yang akan datang oleh para Generasi muda hari ini. tentu masih banyak
varian dan Indikator penelitian lain yang lebih representatif dalam
menggambarkan kondisi kekinian atas keadaan di masa yang akan datang.
Saatnya kita merenungi diri kita, mengevaluasi potensi yang kita
miliki dan mengukur kemampuan bersaing kita menjelang diterapkannya gelombang
Masyarakat Ekonomi ASIA (MEA) yang tinggal beberapa bulan lagi. Saatnya kita
mulai meng-infetarisir Skill. Potensi dan Talenta yang kita miliki untuk
diposisikan pada KUBU yang mana. Lalu bila ada yang perlu dilatih dan ditingkatkan,
mari kita latih mulai dari sekarang agar kita tidak dianggap kelompok manusia
yang Tiba masa tiba akal.
Seperti yang tertera pada judul diatas, “Ganteng dan kekar lebih
menarik namun terampil dan kreatif lebih menjamin”. Ganteng atau Kekar bagi kita
lelaki, tidak menjamin kebahagiaan dan ketenangan bersama pasangan kita dimasa
mendatang, sebab banyak factor yang mesti kita benahi dari diri dan kemampuan
kita untuk menggapai kehidupan yang harmonis itu sendiri. Dan tentunya, lelaki
yang terampil dan kreatif lah yang akan menjadi rebutan para pencari pasangan
hidup. Sebab, wanita lebih cenderung membandingkan kehidupan pada ‘pandangan’
nyaman atau tidaknya sebuah hubungan. Kenyamanan menurut beberapa pakar adalah
ketenangan dan kebahagiaan yang tersuguhkan.
Kita boleh BERSENANG-SENANG dengan bermalas-malasan dimasa ini,
namun dengan konsekwensi kita akan dituntut ‘BERDARAH-DARAH’ dalam mencapai
kehidupan yang berkecukupan dimasa mendatang. Bukankah Hidup ini penuh dengan
pilihan? Semakin baik keputusan yang kita pilih maka semakin baik pula kita
dalam mengendalikan kehidupan itu sendiri…….. Wallahualam Bissawab….!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar