Minggu, 21 Desember 2014

Menulis dengan Ide Sepotong



MENULIS DENGAN IDE SEPOTONG

Dalam kehenyingan malam duduk menyediri memikirkan nasib malang, melihat object yang Nampak selalu setia keberadaan bersamaku, kini aku membuka jendelah baru untuk mengantarkan tidur dalam mimpi. Minimnya ide mau melakukan kegiatan tidak pernah terjawabkan, sebab di kamar kecil dalam ruangan terpatas tanpa melihat kiasan-kiasan indah seperti bintang terang di atas langit.
 
Dalam menikmatin malam memikirkan kejadian lampau atas penyesalan panjang itu, meyiakan-menyiakan waktu tanpa arti, kini semuanya baru tersadari setelah Waktu usia semakin bertambah. Memaksakan diri memulai melakukan hal-hal baru tanpa pernah dilakukan sebelumnya, sebelumnya aku hanya pernah membaca dan menghitung tak jarang untuk menulis tapi kini akupun juga ingin memaksakan hal yang sama dari menjarangkan berkirsa ingin membiasakan, karena hal menulis ini sering juga kita lakukan mulai TK,SD,SMP,SMA bahkan masuk perguruan tinggi masih memainkan pena untuk berpikir. Lalu kenapa jarang orang melakukan hal itu?

Dalam percobaan pertama dengan ide yang sepotong akupun membiasakan diri membuka kertas dan laptop, lalu sejenak termangu memandang layar putih memantul cahaya cerah, tak cukup lama mata ini bertahan, sedikit demi sedikit mulai kesakitan, sedang isi kepalapun kering keronta. Kinipun aku sedang binggung, aku hanya bisa memainkan pena dalam cerita, cerita pengalaman baru yang menjadi penyemangat langkah selanjutnya.

Keinginan mengembangkan potensi dalam menulis sangat besar, sejenak akupun masih berpikir dalam mendapatkan ide-ide untuk menulis, tak sulit sebenarnya juga tidak sangat susah seperti yang kita pikirkan bersama. Pengalaman inipun menjadi torehan sejarah, sebab melakukan hal baru memiliki keberanian adalah hal yang sangat jarang dilakukan oleh orang banyak, walaupun beberapa karya masih tertawa karna keadaanya memang lucu. tapi inilah aku, aku hanya ingin menciptakan sejarah dengan berkarya.
Dalam kata aku tetap terus bergemuyung untuk mencobah, ketika seorang sastra mengatakan hal yang sama seperti juga harapan Aku, dia, juga mereka adalah kita yg ingin di sejarahkan.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Pramoedya Ananta Toer

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar