Selasa, 23 September 2014

Sebatas Waktu (Bersamamu)







Aku tahu, walau nyaris tak habis mengerti
Segala rasa itu terikat
Aku suka, juga senang, sebagaimana juga kamu
Aku tahu kita saling butuh, walau tak pernah bisa bersatu
Kita laksana satu samudera yang senantiasa bertemu
Namun tak pernah berpadu karena berbeda rasa dan warna
Terpisah oleh sekat yang memisteri yang sama-sama juga kita tak pahami

Kita hanya saling mencari dan berlomba
Dalam emosi,,,
Kata nyatanya tak selamanya menjadi kalimat
Kecuali suara, untuk dapat jauh berbuat,,,
Dosa, keindahan, lalu meluncur jadi sebuah dendam dan kebencian (mungkin!)

Inilah teman, inilah sahabat, mungkin juga sebagai saudara
Namun di sela semua itu, kaurela untuk menyibak dan mengacaukan
Perbedaan demi dalih buat kebersamaan
Dewasa tidak sekedar diucapkan
Seperti yang sering kauungkapkan padaku
Tapi harus ditampakkan dalam sikap dan pikiran
Orang yang dianggap dewasa terkadang tidak menunjukkan kedewasaan
Justru lebih pada kekanak-kanakkan: Itu kita!

Yeah, iringan jalan berjalan kita
Tak pernah lepas dari kata teman, sahabat, atau saudara
Tapi kutahu,,,
Ucapan itu bukan tulus keluar dari kedalaman hati dan rasamu
Aku memang temanmu, walau aku ragu
Sebab aku adalah luapan emosimu, demikian juga engkau bagiku
Untuk antarkan kita ke jenjang yang lebih dewasa
Walau juga kita tidak pernah dewasa-dewasa (entah!)
Sebab di saat kuanggap kaudewasa
Justru kauanggap aku masih kekanak-kanakan
Dan mengajarku agar tahu rasa
Aku adalah buaya soliter yang ingin tahu rasa indah (katamu!)
(Kataku!) Kau pun tak lebih dari seekor alligator yang tak bosan
Mengajarkanku pada keindahan yang sama!

Teman, sahabat, saudara,,,
Sebongkah kenangan itu terukir
Kebersamaan kita ada pada jejak-jejak yang terukir
Namun jalan itu tinggal menempuh penghujungnya
Gerbang akhir telah dibuka
Genggam erat tanganku, walau harus dilepaskan selamanya
Maafkan aku, karena tidak pernah dewasa bagimu!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar